Nasib cowok kampung (part 1 & 2)

Masa depan itu seperti hantu! Menakutkan!

Kalimat itu terus membayangiku setiap saat.

Aku memang merasa sudah tidak punya masa depan lagi, terutama sejak aku berhubungan dengan om Zainan suami tante Ratna.

Siapa sebenarnya om Zainan?

Bagaimana kami bisa terjerat hubungan terlarang?

Dan bagaimana pula hubungan kami akhirnya?

Simak kisah ini sampai selesai ya...

Namun sebelumnya, bagi yang baru mampir jangan lupa untuk subscribe channel ini dan klik tanda lonceng untuk menyaksikan video-video menarik lainnya.

Buat seluruh subscriber setia CKP channel, terima kasih atas segala saran, masukan dan dukungannya selama ini.

Terima kasih atas kesetiaannya dan selamat menikmati.

*****

Namaku Sabri. Saat kisah ini terjadi aku masih kuliah semester tiga.

Aku berasal dari kampung. Orangtua dan kakak-kakakku tinggal di kampung.

Aku seorang anak bungsu, karena itu juga kedua orangtuaku sangat ingin aku kuliah.

Karena ketiga kakak-kakakku semuanya perempuan dan sudah menikah. Tak satu pun dari mereka yang sempat duduk di bangku kuliah.

"anak perempuan, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh ujung-ujungnya juga jadi ibu rumah tangga.." begitu ucapan ayahku, sebagai alasan kenapa ketiga kakak-kakakku tidak diperbolehkan untuk kuliah.

"dan kamu Sabri, sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga kita, kamu harus bisa mengangkat derajat keluarga ini. Karena itu ayah ingin kamu kuliah dan sukses nantinya.." ucap ayah melanjutkan.

Tak satu pun dari kami yang bisa membantah setiap ucapan yang terlontar dari mulut ayah.

Ayah memang terkenal sangat tegas kepada kami, anak-anaknya.

Dan terus terang aku memang selalu merasa takut kepada ayah. Terutama aku merasa takut untuk mengecewakannya.

Karena itu, aku selalu berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, supaya bisa memenuhi permintaan ayah.

Hingga akhirnya aku bisa lulus SMA dengan hasil yang memuaskan, dan juga mendapatkan bantuan beasiswa untuk kuliah.

Namun untuk kuliah aku memang harus tinggal di kota, karena jarak kampus tempat aku kuliah sangat jauh dari kampung halamanku.

Beruntunglah ayahku punya seorang adik perempuan yang tinggal di kota. Aku memanggilnya tante Ratna.

Tante Ratna punya seorang suami yang bekerja sebagai security di kampus tempat aku kuliah.

Suami tante Ratna namanya om Zainan. Ia sudah bekerja sebagai security sudah lebih sepuluh tahun.

Rumah mereka juga tidak begitu jauh dari kampus, bisa ditempuh dengan hanya berjalan kaki.

Rumah tante Ratna tidak terlalu besar, hanya ada dua kamar tidur, ruang tengah dan sebuah dapur kecil di bagian belakang.

Namun mereka, walau sudah lebih sepuluh tahun menikah, belum juga mempunyai seorang anak.

Tante Ratna sendiri juga bekerja di sebuah mini market tak seberapa jauh dari rumahnya.

"karena belum punya anak, tante sering merasa kesepian di rumah, karena itu juga om kamu mengizinkan tante untuk tetap bekerja.." jelas tante Ratna suatu hari.

Usia tante Ratna sudah 33 tahun lebih, sedangkan om Zainan sudah berumur 38 tahun.

Harapan mereka untuk bisa punya keturunan sebenarnya masih cukup banyak, tapi sepertinya mereka berdua sudah pasrah akan keadaan mereka saat ini.

Apa lagi kesibukan kerja membuat mereka berdua, seakan bisa melupakan hal tersebut.

Tante Ratna dan om Zainan terlihat sangat senang, ketika aku akhirnya tinggal bersama mereka.

Sebuah kamar kosong, yang selama ini tidak ditempati, mereka berikan padaku, untuk tempat aku tinggal.

"kamu anggap aja ini seperti rumah kamu sendiri.." begitu ucap om Zainan, ketika pertama kali aku tinggal disana.

Karena keterbukaan mereka berdua menerima aku disana, aku menjadi cukup betah dan merasa nyaman.

Setidaknya hal ini cukup mengurangi biaya untuk tempat tinggalku, karena tidak perlu lagi menyewa sebuah kost.

Biar bagaimana pun, penghasilan ayahku di kampung memang terbilang cukup pas-pasan.

"kalau untuk makan dan tempat tinggal, kamu gak usah khawtir. Selama kami masih bekerja, kami akan menanggung semuanya. Tapi untuk biaya kuliah, tante dan om gak bisa banyak membantu.." ucap tante Ratna.

"iya, tante. Saya udah dikasih tempat tinggal dan makan aja, udah lebih dari cukup kok, tante.." balasku.

*****

 Hari berlalu, bulan berganti, sudah hampir satu semester aku tinggal bersama tante Ratna dan om Zainan.

Awalnya semua berjalan dengan sangat baik. Tante Ratna dan om Zainan sangat baik padaku.

Aku dan mereka berdua sudah semakin dekat dan akrab, terutama dengan om Zainan.

Bukan saja karena kami sama-sama laki-laki, tapi juga karena hampir setiap hari kami pergi ke kampus bersama-sama, meski dengan tujuan yang berbeda.

Om Zainan ke kampus untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang security, dan aku sendiri ke kampus untuk kuliah.

Aku dan om Zainan jadi sering ngobrol.

Sikap om Zainan sangat lembut padaku, jauh berbeda dengan perlakuan ayahku padaku.

Ayahku sangat tegas dan terkesan sedikit kasar, sementara om Zainan begitu perhatian dan memperlakukanku dengan baik.

Aku mulai menyukai sosok om Zainan, setidaknya sebagai sosok yang mampu melindungiku.

Kasih sayang yang om Zainan berikan, membuatku merasa nyaman dan merasa diperhatikan.

Om Zainan selalu bertanya tentang segala kegiatanku di kampus, dan selalu memberikan aku supprot saat aku merasa kehilangan semangat.

Perhatian dan kasih sayang yang om Zainan berikan, semakin lama ternyata semakin menumbuhkan rasa sayang di hatiku kepada om Zainan.

Perlahan benih cinta pun tumbuh di hatiku untuknya.

Ya, tanpa pernah aku sangka sebelumnya aku ternyata telah jatuh cinta pada om Zainan.

Sebenarnya om Zainan memang menarik secara fisik. Tubuhnya padat berisi dan berotot.

Perutnya sedikit membuncit, namun hal itu justru membuatnya terlihat gagah.

Wajahnya cukup tampan, meski sudah sedikit mengerut karena termakan usia.

Saya suka memperhatikannya diam-diam. Memikirkannya di hampir setiap malamku.

Aku seakan menemukan sosok yang aku kagumi pada diri om Zainan.

Semakin hari perasaan cintaku pada om Zainan semakin tumbuh dan kian membesar.

Aku tak sanggup lagi menahannya.

Hingga pada suatu malam, saat itu hanya aku dan om Zainan yang berada di rumah.

Sementara tante Ratna masih di mini market, ia mendapat giliran shift malam.

"om Zainan sangat baik padaku, om Zainan juga tampan dan gagah. Saya.. saya.. jadi suka.. sama om.." suaraku terbata, saat itu kami sedang duduk di ruang tamu rumah tersebut.

Om Zainan repleks menatapku tajam. Keningnya mengerut, ia seperti mencoba memahami maksud dari pernyataanku barusan.

"sebenarnya om sudah tahu, meski om belum begitu yakin.. tapi dari sikapmu akhir-akhir ini, om mulai percaya kalau kamu memang menginginkan om.." om Zainan berucap juga akhirnya setelah cukup lama ia menatapku.

Meski merasa sedikit kaget akan pengakuan om Zainan barusan, tapi aku berusaha bersikap setenang mungkin.

Aku percaya, bahwa tingkahku selama ini kepada om Zainan sebenarnya cukup menggambarkan perasaanku padanya.

Hanya saja aku tidak menyangka kalau om Zainan akan berucap begitu santai akan hal tersebut.

Aku kira awalnya, om Zainan akan marah karena pengakuanku.

Tapi...

"om juga suka sama kamu, Sab..." tegas suara om Zainan, yang membuatku semakin merasa kaget.

"selama ini om selalu berusaha memberi perhatian lebih sama kamu. Om berharap kamu bisa mengerti akan hal tersebut..." om Zainan melanjutkan kalimatnya.

"dan sekarang setelah pengakuan jujur kamu barusan, om jadi sangat berani untuk mengungkapkan perasaan om padamu.." lanjutnya lagi, sambil terus menatapku.

"lalu... sekarang kita harus bagaimana, om?" tanyaku kemudian.

"kalau memang kita saling suka, bukankah sebaiknya kita mencoba menjalin hubungan yang lebih serius?!" balas om Zainan dengan nada sedikit bertanya.

"tapi bagaimana dengan tante Ratna, om?" tanyaku lagi.

"biar bagaimana pun hubungan kita adalah sebuah rahasia, Sab. Kita harus menjalin hubungan secara diam-diam tanpa diketahui siapa pun, terutama oleh tante kamu.." jawab om Zainan.

Aku mengangguk setuju.

Dan tak lama berselang, om Zainan pun mengajak masuk ke kamarku.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku pun melakukan hal tersebut bersama om Zainan.

Hatiku terasa berbunga. Semuanya terasa indah malam itu.

Om Zainan benar-benar membuatku terlena akan sebuah hubungan cinta yang indah.

Apa lagi aku yang baru pertama kali merasakan hal tersebut.

Aku merasa terkesan. Sungguh sebuah pengalaman yang begitu indah dalam hidupku.

*****

"sebenarnya om menikah dengan tante kamu, bukan karena om jatuh cinta padanya. Tapi karena kodrat om sebagai laki-laki." cerita om Zainan, saat suatu malam kami kembali melakukan hal tersebut.

Aku dan om Zainan memang selalu berusaha mengatur waktu agar kami bisa berduaan, terutama saat tante Ratna pergi bekerja.

"om sudah berusaha sekuat mungkin untuk bisa mencintai tante kamu, tapi om tetap merasa biasa saja. Meski tentu saja om harus tetap menjalankan kewajiban om sebagai seorang suami."

"bertahun-tahun menikah, kami belum juga dikaruniai anak. Dan hal itu membuat om jadi sering merasa frustasi dan kesepian. Hingga kehadiran kamu di rumah ini, mampu mengubah segalanya.."

"om jadi punya teman untuk bercerita. Dan semakin hari om jadi semakin suka sama kamu. Karena itu juga om berusaha bersikap sebaik mungkin sama kamu, dan berharap kamu juga bisa menyukai om.."

"sekarang semua mimpi om tentang kamu telah menjadi nyata. Om merasa bahagia saat ini. Selama ini hidup om terasa hampa."

"sejak menikah dengan tante kamu, om tidak pernah lagi berhubungan dengan laki-laki, meski keinginan itu selalu ada. Tapi om selalu berusaha menepisnya.."

"namun ketika bersama kamu, om tidak bisa lagi menahannya. Apa lagi ketika om tahu, kalau kamu juga menyukai om.." cerita om Zainan panjang lebar.

Aku tidak begitu peduli tentang masa lalu om Zainan. Tapi terus terang ada rasa bersalah, ketika aku ingat akan tante Ratna.

Biar bagaimana pun, aku tanpa sengaja telah merebut om Zainan darinya.

Meski hubungan mereka berdua tetap terlihat baik-baik saja.

****

Waktu tetap terus berlalu, sudah hampir setahun hubungan terlarangku dengan om Zainan terjalin.

Setahun hubungan kami, semua berjalan baik-baik saja. Aku merasa bahagia dengan semua itu.

Karena biar bagaimana pun, om Zainan lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku.

Tapi sepandai apa pun kami menyimpan bangkai, pada akhirnya akan tercium juga.

Suatu malam, saat kami sedang bermesraan, tiba-tiba tante Ratna datang dan memergoki kami yang sedang mendaki bersama.

Tante Ratna tertegun. Ia terlihat sangat syok.

Kami berdua segera saling melepaskan diri, dan dengan tergesa memakai pakaian kami lagi.

Tapi tante Ratna sudah terlanjur jatuh pingsan. Tubuhnya ambruk tiba-tiba, beruntunglah om Zainan dengan cekatan segara menyambut tubuh itu, sehingga tidak sampai menyentuh lantai.

Aku sendiri tidak tahu, bagaimana perasaanku saat itu.

Antara malu, takut, dan merasa sangat bersalah.

Om Zainan membaringkan tante Ratna di ranjang, kemudian berusaha membuat tante Ratna sadar dari pingsannya.

Separuh hatiku tidak ingin tante Ratna segera sadar, aku belum siap menghadapinya.

Tapi tentu saja ada kekhawatiran, bagaimana kalau tante Ratna benar-benar tidak siuman lagi?

Rasa bersalah pasti akan menghantuiku sepanjang hidupku.

"sebaiknya kamu pergi aja dulu dari rumah ini, Sab. Biar om yang akan menjelaskan semuanya pada tantemu kalau ia sadar nanti.." ucap om Zainan, sambil memegang kedua pundakku.

"tapi saya takut, om. Bagaimana kalau tante Ratna cerita pada ayah? Habislah aku, om.." balasku terdengar pilu.

"kamu tenang ya, Sab. Kita akan lewati semua ini bersama-sama. Tapi sekarang kamu harus pergi dulu, om akan berusaha meyakin tante kamu, agar tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, terutama kepada ayahmu.." ucap om Zainan lagi, kali ini ia melepaskan tangannya.

Mungkin memang sebaiknya aku menghindar dulu dari sini, karena jika tante Ratna siuman, dan ia melihatku disini, ia pasti akan meluahkan semua kekecewaannya pada kami.

Mungkin memang sebaiknya, aku biarkan om Zainan yang akan menjelaskan semuanya.

Karena itu, aku pun perlahan mulai melangkah meninggalkan rumah tersebut, walau perasaanku sendiri masih terasa tak karuan.

*****

Antara perasaan malu, takut dan rasa bersalah aku melangkah dalam kegelapan malam.

Pikiranku melayang jauh, memutar kembali kejadian tragis yang baru saja aku alami.

Entah bagaimana keadaan tante Ratna saat ini. Aku berharap ia akan baik-baik saja.

Meski dengan begitu, resikonya sangat besar bagiku. Tante Ratna bisa saja menceritakan hal tersebut kepada ayah dan ibuku.

Dan jika hal itu terjadi, aku tidak akan pernah sanggup lagi untuk pulang.

Sementara om Zainan sendiri, belum mengabari sampai saat ini.

Aku duduk di sebuah bangku taman, dengan pikiranku yang kacau balau.

Hingga pagi menjelang aku bahkan tidak tidur sedetik pun.

Aku ingin segera menghubungi om Zainan, aku ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tapi aku merasa takut.

Ahk... aku benar-benar merasa bingung.

Mengapa hal ini harus terjadi padaku?

Tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak ke dalam rongga dadaku.

Aku menyesal mengapa aku tidak bisa menahan perasaanku.

Mengapa aku dengan begitu saja menerima kehadiran om Zainan di dalam hatiku?

Sementara aku tahu, kalau ia adalah suami dari tanteku sendiri.

Aku merasa jahat. Aku merasa tak berguna. Dan masa depan sudah semakin tidak jelas.

Masa depanku benar-benar seperti hantu. Menakutkan!

Apa jadinya kehidupanku ke depannya?

Bagaimana masa depanku?

Akankah semuanya akan baik-baik saja?

Mungkinkah om Zainan bisa mengatasi ini semua?

Beribu pertanyaan berserakan di benakku.

Aku tak sanggup lagi memikirkannya.

Aku putus asa...!

****

Dering handphone mengagetkanku tiba-tiba. Aku menatap layar handphone itu.

Itu nomor ayahku!

Tiba-tiba perasaan takut kembali menghantuiku.

Mungkin tante Ratna sudah menghubungi ayahku dan menceritakan semuanya. Pikirku.

Aku tidak ingin menjawab telepon tersebut. Aku takut. Aku takut menghadapi kenyataan.

Handphone-ku kembali berdering untuk yang ketiga kalinya. Masih dari ayah.

Aku masih tidak mengangkatnya. Aku bahkan berniat untuk mematikan handphone segera.

Saat sebuah pesan masuk ke wa-ku.

'angkat telepon dari ayahmu, Sabri. Kamu tenang aja, semuanya baik-baik saja, kok..'

pesan itu berasal dari om Zainan.

Meski aku tidak begitu mengerti arti maksud dari kalimat baik-baik saja tersebut, tapi setidaknya aku merasa sedikit lega.

Karena itu juga, aku pun segera mengangkat telepon dari ayahku, ketika untuk keempat kalinya ia menghubungiku.

"kamu dimana?" itu kalimat pertama ayahku tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat marah.

"saya... saya.. saya di rumah teman, Yah.." jawabku terbata.

"kamu kembali ke rumah tante kamu sekarang dan kemasi semua barang-barang kamu dan segera kamu pulang ke kampung.." suara Ayah terdengar sangat tegas.

Kemudian tanpa basa-basi ia pun menutup telepon-nya.

Seperti biasa aku tidak pernah berani membantah permintaan ayah. Aku segera kembali ke rumah tante Ratna.

Sesampainya disana aku tidak menemukan siapa-siapa disana. Tidak ada tante Ratna dan juga tidak ada om Zainan.

Beribu pertanyaan kembali menghantui pikiranku.

Kemana mereka berdua? Dan apa yang terjadi sebenarnya?

Tapi aku segera mengabaikan segala pertanyaan tersebut. Aku bergegas mengemasi beberapa barangku dan segera keluar dari rumah tersebut.

Aku segera menuju terminal dan mencari kendaraan umum yang menuju kampungku.

Meski perasaanku sangat terasa tidak nyaman, tapi aku memang harus pulang.

Tak peduli apa pun yang akan terjadi nanti. Tak peduli sekali pun ayah membunuhku.

Aku memang bersalah dan aku pantas untuk dihukum.

Aku tak ingin lari lagi. Aku harus menghadapi kenyataan ini, meski terasa begitu menyakitkan.

*****

Aku masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang serba salah.

Ayah menatapku dengan tatapan penuh kemarahan.

"ayah kecewa sama kamu, Sabri! Kamu satu-satunay harapan ayah untuk bisa mengubah nasib kita. Tapi apa yang kamu lakukan benar-benar membuat ayah merasa malu." suara ayah terdengar sangat tajam di telingaku.

"padahal selama ini ayah selalu membanggakan kamu di depan orang-orang. Tapi apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu harus melakukan hal yang sangat memalukan tersebut?!" suara ayah semakin ketus.

Aku hanya tertunduk. Aku tak sanggup menatap wajah kemarahan ayah. Sementara ibuku hanya menatapku dengan perasaan iba.

Aku tahu, betapa malunya ayah dan juga keluargaku saat ini, karena telah mengetahui perbuatanku.

"kita memang miskin, nak. Tapi Ibu dan ayah tidak pernah mengajarkan kalian untuk jadi seorang pencuri.." ibu berucap dengan suara terisak.

Sementara ayah masih menatapku dengan tajam.

"mencuri?" suaraku pelan, penuh dengan tanda tanya.

"kamu tidak usah mengelak lagi, Sabri. Tante kamu udah cerita semuanya. Kamu telah mencuri uang tabungan tante kamu.." kali ini ayah yang berbicara lagi.

Oh, antara lega dan kecewa aku mendengar semua itu.

Lega, karena ternyata tante Ratna tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya. Kecewa karena aku harus kehilangan kesempatan untuk kuliah.

"ayah tahu, uang yang ayah kirimkan tidak cukup untuk biaya kamu kuliah. Tapi bukan berarti kamu harus mencuri, Sab. Setidaknya kamu bisa cerita sama ayah atau sama ibu kamu, kalau kamu memang butuh uang.." ayah berucap lagi.

Untuk selanjutnya aku tidak begitu menyimak setiap kalimat dari ayah mau pun dari ibuku.

Mereka sangat marah karena aku yang dikatakan telah mencuri oleh tante Ratna. Tapi itu tidak masalah. Setidaknya itu jauh lebih baik, dari pada mereka mengetahui cerita yang sebenarnya.

Aku biarkan mereka memarahiku habis-habisan. Aku tidak begitu peduli.

Namun yang menjadi tanda tanya bagiku, apa yang sebenarnya terjadi, hingga tante Ratna harus menceritakan kejadian bohong kepada ayah?

Berhasilkah om Zainan membujuk tante Ratna untuk tidak menceritakannya kepada ayah?

Jika benar, lalu mengapa aku harus dipaksa kembali ke kampung?

Lalu bagaimana dengan hubungan tante Ratna dan Om Zainan?

Akankah mereka masih hidup bersama?

Dan bagaimana pula dengan hubunganku dan om Zainan selanjutnya?

Akankah aku masih punya kesempatan untuk bertemu om Zainan kembali?

Setidaknya untuk mendapatkan penjelasan dari semua pertanyaan yang ada di benakku saat ini...

******

Part 2

(Bersama sang duda)

Jumpa lagi dengan saya, masih di channel yang sama dan dengan kisah yang berbeda.

Terima kasih udah mampir, udah subscribe, udah like dan udah komen.

Buat seluruh subscriber setia saya, terima kasih atas segala masukannya, terima atas saran dan dukungannya selama ini.

Bagi yang baru mampir, seperti biasa jangan lupa Subscribe channel ini dan klik tanda lonceng untuk menyaksikan video-video menarik lainnya di channel ini.

Sekali lagi terima kasih dan selamat menikmati.

****

 Masa depan itu seperti hantu. Menakutkan!

Huh.. aku menghembuskan napas berat.

Sekarang aku mau tidak mau harus berhenti kuliah, dan harus bekerja di kampung.

Setelah semua yang terjadi.

Yah, akhirnya aku tahu. Aku tahu semuanya. Setiap pertanyaan yang tersimpan di dalam benakku akhirnya terjawab.

Setelah kejadian tragis yang menimpaku di rumah tante Ratna, dimana ia memergoki-ku sedang bercumbu dengan suaminya om Zainan, hingga beliau pingsan.

Kemudian ayahku menghubungiku untuk memintaku segera pulang. Aku pulang dengan perasaan berat.

Dan bersiap dicaci maki ayahku, yang ternyata hanya mengetahui kalau aku dilaporkan oleh tante Ratna telah mencuri di rumahnya.

Tante Ratna memang tidak menceritakan kejadian yang sebenarnya, tapi aku tidak lagi bisa kuliah dan harus kembali tinggal di kampung.

Seminggu setelah kejadian tersebut, aku pun memberanikan diri untuk menghubungi om Zainan dan mengajaknya bertemu.

Meski berat, om Zainan pun menyetujuinya.

Saat itulah om Zainan menceritakan semuanya.

Om Zainan ternyata berhasil membujuk tante Ratna untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada ayahku, dengan syarat om Zainan harus menceraikannya.

Om Zainan dan tante Ratna bercerai dan berpisah, sehingga aku tidak bisa lagi tinggal di rumah mereka untuk melanjutkan kuliah.

Sebagai pelajarannya untukku atas keinginan tante Ratna, ia melaporkan kepada ayahku kalau aku telah mencuri di rumahnya.

"tante kamu tak ingin kamu terus kuliah dan tinggal di kota, karena menurutnya jika kamu masih tinggal di kota, kamu akan terus berhubungan dengan om, dan tante kamu tidak ingin masa depanmu rusak karena om.."

"lagi pula menurutnya, sekalipun kita tidak lagi berhubungan, akan banyak laki-laki homo lain yang akan menjalin hubungan dengan kamu, Sab."

"dan menurut tante kamu juga, jika kamu kembali tinggal di desa, kamu tidak akan lagi terjerumus dalam hubungan sesama jenis, karena kamu akan selalu diawasi oleh ayahmu.."

Begitu penjelasan om Zainan padaku. Yang membuatku tertegun.

Ternyata tante Ratna tidak marah padaku. Ia tetap memikirkan pilihan terbaik untuk hidupku.

Meski pun aku tidak bisa lagi untuk kuliah, tapi setidaknya ia berharap jika aku tinggal bersama keluargaku, aku pasti akan lebih hati-hati dalam melangkah.

Menurutku, ada benarnya juga tindakan dari tante Ratna padaku. Aku menganggapnya sebagai sebuah hukuman.

Jika aku tetap tinggal di kota, aku tidak akan bisa menahan keinginanku untuk bertemu dengan om Zainan. Atau setidak-tidaknya, akan banyak kesempatan bagiku untuk terus tenggelam dalam dunia gay.

Dan lagi pula, tante Ratna sudah memutuskan untuk bercerai dari om Zainan dan menjual rumah mereka. Dengan begitu, jika aku tetap kuliah aku harus mencari tempat kost sendiri.

Sementara aku cukup tahu, kalau ayah tidak akan sanggup membiayai itu semua, tanpa bantuan dari tante Ratna.

Jadilah aku sekarang, berada kembali di kampung halamanku, dengan cap seorang pencuri dari mata ayah dan keluargaku.

Tapi sekali lagi, itu jauh lebih baik dari pada mereka mengetahui, kalau aku adalah seorang gay.

*****

Waktu terus berlalu, dan aku masih dalam ketakutan akan sebuah masa depan yang tak pasti.

Aku mulai belajar untuk melupakan sosok om Zainan.

Biar bagaimana pun aku tidak mungkin bisa lagi mengharapkan om Zainan tetap bersamaku.

Selain karena itu adalah salah satu syarat dari tante Ratna, tapi juga karena jarak diantara kami terlalu jauh.

Meski sebenarnya aku tidak sepenuhnya berubah. Tidak mudah untuk berubah, apa lagi aku sudah merasakan manisnya hal tersebut.

Hanya saja aku harus selalu bisa memendam setiap kali keinginan itu datang. Karena untuk saat ini, ayahku masih terus mengawasi setiap tindakanku.

Berbulan-bulan pun berlalu, aku sudah tidak memikirkan tentang om Zainan.

Hubunganku dengan om Zainan berakhir begitu saja. Semua bagiku hanyalah seuntai cerita yang telah menjadi masa lalu.

Sekarang aku harus menjalani kehidupanku kembali. Ayah juga sudah mulai mempercayaiku lagi, ia terlihat yakin kalau aku sudah tidak akan melakukan kesalahan lagi.

Karena itu ia akhirnya memberi aku izin untuk ikut bersama pak Anwar untuk bekerja di kota menjadi seorang pegawai di sebuah supermarket.

Pak Anwar adalah seorang manager di supermarket tersebut, dan ia sedang mencari karyawan-karyawan baru untuk dipekerjakan di supermarket tersebut.

Kebetulan pak Anwar dan ayah sudah kenal sejak lama, sehingga pak Anwar menawarkanku untuk bekerja bersamanya di kota.

Di kota aku tinggal bersama pak Anwar, yang ternyata adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya.

Pak Anwar hanya tinggal berdua bersama putranya yang masih remaja. Karena itu ia menawarkanku untuk tinggal bersamanya.

Pak Anwar sangat baik padaku, mungkin karena ia adalah teman ayahku.

Pak Anwar sudah berusia sekitar 42 tahun, namun ia masih terlihat tampan dan gagah.

Pak Anwar memang selalu rajin berolahraga. Bahkan di rumahnya terdapat beberapa alat olahraga, yang ia pakai ketika waktu senggangnya.

Diam-diam aku mulai mengagumi sosok pak Anwar.

Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang berotot membuatku jadi sering mengkhayalkannya.

Tapi aku selalu berusaha untuk bersikap wajar di hadapan pak Anwar. Aku tidak ingin pak Anwar tahu, kalau adalah seorang gay.

Karena jika ia tahu, aku sudah pasti akan diusirnya dari rumah dan akan dipecat dari pekerjaanku. Dan yang lebih parahnya, ia bisa saja menceritakan hal tersebut kepada ayahku.

Untuk itu aku tidak berani berharap banyak pada pak Anwar. Aku hanya bisa memendam perasaanku padanya.

Menikmati setiap khayalan indahku tentangnya.

Menjadikannya salah satu inspirasiku untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Aku hanya berharap, semoga masa depanku tak lagi seperti hantu.

Aku harus bekerja keras, agar bisa menjadi orang yang suskes seperti harapan ayah.

"apa kamu gak berniat untuk kuliah lagi, Sab?" tanya pak Anwar suatu malam, saat kami sedang duduk-duduk berdua di ruang tamu rumahnya.

"pengen sih, pak. Tapi kalau aku kuliah pasti butuh biaya besar dan aku juga tidak bisa lagi bekerja seperti ini.." jawabku pelan.

"kamu kan bisa kuliah sambil kerja, Sab. Banyak loh, orang yang bisa sukses dengan kuliah sambil kerja.." ucap pak Anwar lagi.

"iya sih, pak. Tapi kan jadwal kerja-ku cukup padat, aku takut tidak bisa mengatur waktu dengan baik.." balasku.

"kalau kamu mau, saya bisa ajukan agar kamu masuk kerjanya hanya sore sampai malam, jadi paginya kamu bisa fokus kuliah.." pak Anwar berujar sambil kali ini ia menatapku.

"emang bisa seperti itu, pak?" tanyaku.

"sebenarnya sih gak bisa, Sab. Tapi saya akan usahakan, jika kamu memang benar-benar berniat untuk kuliah lagi.." balas pak Anwar.

Setelah berpikir cukup panjang, aku akhirnya menyetujui tawaran dari pak Anwar.

"saya bisa bantu kamu, Sab. Tapi saya punya satu permintaan padamu..." ucap pak Anwar kemudian.

"permintaan? permintaan apa, pak?" tanyaku penasaran.

"saya.... saya... ingin kamu mulai malam ini menemani saya tidur...." terbata suara pak Anwar, namun mampu membuatku sedikit membelalakkan mata.

"maksud... maksud pak Anwar apa?" tanyaku.

"aku sudah lama menduda, Sab. Dan selama ini aku selalu merasa kesepian. Ingin rasanya aku menikah lagi. Tapi aku sudah terlanjur berjanji pada almarhumah istriku, bahwa aku tidak akan menikah lagi sampai setidaknya anakku kuliah nanti.." pak Anwar berujar.

"dan jika aku menjalin hubungan dengan perempuan tanpa menikah, aku takut ia akan menuntutku untuk segera menikahinya. Sementara aku belum bisa untuk itu."

"dan ketika aku tahu, kalau kamu diam-diam sering memperhatikanku. Aku jadi tertarik untuk bisa mencobanya bersama kamu. Setidaknya dengan begitu, jelas sangat tidak mungkin kamu bisa hamil dan menuntutku untuk menikahimu.."

"walau pun aku tidak tahu, apa aku bisa menikmati hal tersebut, tapi setidaknya dengan begitu segala kesepianku selama ini akan tercurahkan.."

pak Anwar mengakhiri kalimatnya, yang membuatku kian tertegun.

Sebenarnya aku memang menyukai pak Anwar. Aku sudah tertarik padanya. Dan aku memang ingin bersamanya.

Tapi ...

"bagaimana dengan anak pak Anwar sendiri? Apa ia gak bakal curiga kalau kita tidur sekamar?" tanyaku akhirnya.

"kamu hanya akan masuk kamarku, jika anakku sudah tertidur dan akan keluar sebelum ia bangun.." jelas pak Anwar.

Aku pun kemudian menyetujui tawaran dari pak Anwar tersebut.

Bukan saja karena aku memang menyukainya, tapi juga karena aku berharap, agar aku segera bisa kuliah kembali.

Jadilah semenjak saat itu, aku dan pak Anwar menjalin hubungan asmara secara diam-diam.

Aku juga mulai kuliah kembali dan sambil tetap bekerja di supermarket.

Seperti janji pak Anwar, aku bisa kuliah di pagi harinya dan masuk kerja dari sore hingga malam.

Saat aku pulang kerja, otomatis anak pak Anwar sudah masuk ke kamarnya dan tertidur.

Saat itulah aku akan menyelinap masuk ke dalam kamar pak Anwar.

Hubunganku dengan pak Anwar terasa begitu indah bagiku.

Aku sangat menikmati hal tersebut, demikian juga dengan pak Anwar sendiri.

Hingga berbulan-bulan hal itu terus terjadi.

Sampai akhirnya aku mengetahui sebuah rahasia.

Pak Anwar ternyata sebenarnya memang seorang gay sejak awal.

Aku mengetahuinya dari salah seorang rekan kerjaku.

"kamu terlihat nyaman tinggal serumah dengan pak Anwar.." ucap temanku itu.

"iya. Kenapa emangnya?" balasku bertanya.

"aku tahu siapa pak Anwar. Dulu ia pernah mengajakku tinggal di rumahnya. Tapi setelah sebulan, tiba-tiba ia menawarkanku untuk kuliah dan menjanjikanku untuk bisa mengatur jadwal kerjaku."

"aku merasa senang awalnya. Tapi kemudian ia mengajukan sebuah syarat, jika aku memang ingin kuliah sambil kerja, aku harus bersedia menemaninya tidur setiap malam.."

begitu cerita dari temanku tersebut.

"tapi karena aku yang masih normal, tentu saja merasa jijik mendengar hal tersebut dan memutuskan untuk menolak tawarannya." lanjutnya lagi.

"pak Anwar sempat marah karena aku menolaknya dan juga mengusirku dari rumahnya. Ia juga mengancam akan memecatku jika aku menceritakan tentang dirinya pada siapa pun.." temanku melanjutkan ceritanya.

"lalu mengapa sekarang kamu cerita sama saya?" tanyaku berusaha bersikap seolah-olah aku baru mengetahui hal tersebut.

"karena aku tidak ingin kamu menjadi korban selanjutnya, Sab. Jadi sebelum hal itu terjadi, sebaiknya kamu pindah saja dari sana.." balas lelaki yang berwajah cukup tampan itu.

Untuk selanjutnya aku hanya terdiam.

Terus terang aku memang merasa kaget mendengar cerita temanku tersebut. Setidaknya aku baru tahu, kalau pak Anwar adalah seorang gay.

Tapi hal tersebut tidak akan mengubah apa pun bagiku.

Karena pada dasarnya aku memang menyukai pak Anwar, terlepas dia seorang gay atau bukan.

Terlepas ia berbohong atau tidak padaku, aku juga tidak peduli.

Yang penting saat ini, aku bisa kuliah sambil kerja, dan sekaligus bisa menikmati malam bersama laki-laki yang aku cintai.

Setidaknya aku sedikit punya harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Semoga saja masa depanku tidak seperti hantu. Menakutkan..

Ya, semoga saja..

****

Sekian...

Istriku pergi saat aku sedang terpuruk.. (part 4) sahabatku menggantikannya

Semenjak anakku, aznah yang baru berusia empat tahun itu meninggal, kehidupan rumah tanggaku dan Airin benar-benar menjadi kacau.

Aku kehilangan gairah. Aku kehilangan semangat hidup. Begitu juga istriku, Airin.

Airin sekarang jadi jarang berada di rumah. Ia banyak menghabiskan waktunya untuk berkumpul bersama teman-temannya di luar.

Sang Penuai mimpi

Airin benar-benar berubah, ia tak lagi selembut dulu. Kami bahkan sangat jarang berbicara.

Kami takut setiap kata yang keluar hanya akan membangkitkan kenangan kami akan kematian anak kami yang tiba-tiba.

"sampai kapan kamu akan seperti ini, Lif?" suara Bayu sahabatku yang selalu ada menemaniku, bahkan di saat-saat terpahit dalam hidupku.

Aku hanya menatapnya dengan mata yang memerah. Hatiku memang selalu terasa perih.

"setiap orang pernah gagal, Lif. Setiap orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya. Namun itu bukan alasan untuk mereka berhenti dan menyerah.." Bayu melanjutkan.

"aku tahu ini semua sangat berat bagimu, Lif. Tapi sudah saatnya kamu bangkit lagi, Lif. Memulai lagi semuanya dari awal. Kamu pernah melewati yang lebih menyakitkan dari ini, Lif. Dan saya yakin kamu pasti bisa bangkit.."

Aku hanya menghela napas berat. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan saat ini. Kegagalan demi kegagalan terus menghantui sepanjang perjalanan hidupku.

Aku putus asa.

Hingga akhirnya aku dan Airin memutuskan untuk berpisah. Kami memilih untuk menjalani kehidupan kami masing-masing.

Semua itu kami lakukan, agar kami bisa melupakan tentang kematian anak kami satu-satunya.

Mungkin ini bukan yang terbaik, tapi aku sendiri tidak benar-benar tahu apa yang terbaik untuk hidupku sebenarnya.

"kamu yakin ingin berpisah dari istrimu, Lif?" serak suara Bayu menanyaiku.

"iya, Bay. Karena setiap kali aku melihat istriku hanya rasa sakit yang aku rasakan.." suaraku lirih.

"kami juga memutuskan untuk menjual rumah kami. Dan sekarang aku tidak punya tempat untuk sekedar berteduh.." lanjutku masih dengan nada lirih.

"kamu tahu, Lif. Aku akan selalu ada untuk kamu. Rumahku juga selalu terbuka buat kamu.." balas Bayu ringan.

"tapi saya gak enak sama istri kamu, Bay. Saya gak mungkin tinggal bersama kalian." jawabku.

"jadi apa rencana kamu sekarang?" Bayu bertanya kembali.

"saya gak tahu pasti, Bay. Namun saya akan mencoba mencari rumah kontrakan, untuk sementara.." jawabku lagi.

Aku memang masih bekerja bersama Bayu. Meski akhir-akhir ini aku jarang berada di tempat kerja. Dan beruntunglah Bayu sangat mengerti keadaanku.

Bayu membantuku mencarikan rumah kontrakan, yang berada tidak terlalu jauh dari tempat aku bekerja.

Bayu memang selalu ada untukku. Ia selalu bisa memberikan jalan keluar dari setiap persoalan yang aku hadapi.

Bayu selalu baik padaku. Kadang aku merasa tidak enak hati, harus selalu menerima bantuan darinya.

"itulah gunanya sahabat, Lif. Saling membantu dan saling menguatkan.." begitu selalu alasan Bayu, setiap kali aku membahas tentang segala kebaikannya.

Kadang aku merasa kebaikan Bayu padaku, sedikit berlebihan. Tapi sekali lagi, aku memang selalu membutuhkan Bayu.

Hingga suatu saat, Bayu mendapat sebuah musibah yang cukup tragis.

Istrinya mengalami sebuah kecelakaan dan akhirnya meninggal.

Sebagai sahabat tentu saja aku turut berduka dan berusaha menghibur Bayu.

"sekarang aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan selama ini, Lif..." ratap Bayu terdengar pilu.

"sekarang aku bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Sakit, Lif.." lanjutnya.

Aku merasa perihatin melihat kondisi Bayu. Namun ia masih cukup beruntung, anaknya masih bersamanya dan kedua orangtuanya selalu memberi dukungan lebih padanya.

Meski demikian, terlihat sekali kalau Bayu begitu terpukul dengan kematian istrinya.

****

Hari-hari berlalu, tanpa bisa dicegah atau pun dipacu.

Aku dan Bayu sudah mulai pulih kembali. Kami sama-sama saling menguatkan agar bisa bangkit dari segala keterpurukan kami.

Hubunganku dengan Bayu juga terasa semakin erat. Kami sering menghabiskan waktu berdua.

Sebagai dua orang yang sama-sama kesepian, kami memang saling membutuhkan.

Semakin lama kedekatan kami seperti sudah melebihi kedekatan dua orang sahabat.

Aku selalu merasa nyaman saat berada di dekat Bayu. Aku merasa bahagia bisa selalu bersamanya.

Perasaan itu kian hari kian berkembang dan semakin membuatku bingung.

Aku selalu merasakan getar-getar aneh, saat dekat-dekat dengan Bayu.

Tiba-tiba saja wajah Bayu jadi begitu tampan di mataku. Tiba-tiba saja wajah itu selalu menghiasi angan dan mimpiku.

Oh, tidak. Apa yang aku rasakan ini?

Kenapa Bayu selalu jadi buah pikiranku?

Kenapa aku selalu memikirkannya?

Mungkinkah karena selama ini Bayu begitu baik padaku?

Mungkinkah karena selama ini Bayu selalu ada untukku?

Munkinkah karena aku yang telah dua kali ditinggal istriku dan selalu merasa kesepian?

Atau sebenarnya perasaan ini sudah ada sejak lama, bahkan mungkin sejak kami masih sama-sama SMA?

Ahk, aku benar-benar bingung dengan perasaanku saat ini.

*****

Suatu saat, aku dan Bayu merencanakan sebuah perjalanan ke sebuah daerah yang sama-sama belum pernah kami kunjungi.

Hanya kami berdua..

"sekedar untuk melepas penat, karena telah lelah bekerja beberapa bulan ini.." begitu alasan Bayu, dalam rangka usahanya untuk mengajakku.

Aku pun akhirnya setuju. Dan kami pun berangkat dengan menggunakan mobil Bayu.

Selama perjalanan Bayu terus bercerita tentang kisah-kisah kami di masa SMA dulu.

Kami menginap di sebuah hotel, sebelum esoknya kami merencanakan perjalanan kami di sebuah pantai.

Malam itu, sebelum tidur Bayu kembali mengajakku ngobrol, sambil berbaring di ranjang.

"dulu, aku sangat mengagumi kamu, Lif.." ucap Bayu di sela-sela ceritanya.

"hingga sekarang.." lanjutnya pelan.

Aku melirik Bayu. Aku ingat dulu Bayu pernah cerita kalau aku salah satu inspirasinya untuk belajar, hingga ia bisa lulus kuliah di luar negeri.

Aku pikir Bayu mengagumiku karena aku memang termasuk anak yang pintar ketika sekolah dulu.

"aku mengagumi kamu, Lif. Bukan saja karena kamu pintar, tapi juga karena kamu selalu terlihat keren. Kamu tampan dan terlihat macho. Kadang aku iri sama kamu, yang disukai banyak orang dan begitu mudah mendapatkan pacar."

Tiba-tiba Bayu terdengar menarik napas dalam.

"saya mau jujur sama kamu, Lif." ucapnya pelan.

"sebenarnya sudah sejak SMA aku suka sama kamu, Lif." suara Bayu masih pelan, namun mampu membuatku sedikit kaget dengan kalimatnya barusan.

"aku suka sama kamu dengan segala kelebihanmu itu, Lif. Dan diam-diam aku jatuh cinta sama kamu.." Bayu terus melanjutkan kalimatnya.

"namun kemudian aku sadar, bahwa apa yang aku rasakan padamu, adalah sebuah kesalahan. Karena itu setelah lulus SMA, aku pun memutuskan untuk menerima tawaran papa, untuk aku kuliah di luar negeri."

"aku berharap dengan tidak pernah bertemu kamu lagi, segala rasa cintaku padamu akan ikut sirna."

"namun aku salah, setiap hari yang ada dalam anganku hanyalah dirimu, Lif. Dan ketika akhirnya kita bisa bertemu lagi tanpa sengaja, perasaan itu kian kuat aku rasakan."

"namun aku selalu berusaha memendamnya sekuat mungkin. Apa lagi ketika kita bertemu kembali, saat itu aku sudah ditunangkan dan kamu sendiri juga sudah menikah dan memiliki anak."

"aku mencoba mengabaikan segala perasaanku padamu. Berusaha menganggap kamu hanyalah seorang sahabat.."

Bayu mengakhiri kalimatnya dengan sebuah helaan napas berat.

Aku terdiam. Benar-benar terdiam. Aku tidak tahu, apa yang harus yang aku katakan saat itu.

Tapi yang pasti segala kejujuran Bayu barusan, benar-benar membuatku tergugah.

"lalu mengapa saat itu, kamu malah menjodohkanku dengan Airin?" tanyaku akhirnya, setelah kami terdiam beberapa menit.

"sejujurnya setiap hari aku selalu berusaha untuk bisa memupus segala harapanku padamu, Lif. Aku tidak ingin kamu tahu, tentang bagaimana perasaanku padamu. Aku hanya ingin kamu bahagia, meski kadang aku harus menelan kepahitan karenanya.." suara Bayu terdengar serak.

Aku menarik napas berat. Aku benar-benar tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini.

Aku memang merasa nyaman saat bersama Bayu. Aku merasa bahagia saat bersamanya.

Tapi apakah itu cinta?

"aku minta maaf, Lif. Karena telah jatuh cinta padamu. Hal ini tentu saja akan merusak persahabatan kita. Tapi aku tidak mampu lagi memendamnya. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengungkap ini semua padamu, Lif."

"setelah bertahun-tahun aku berusaha memendamnya. Maafkan aku untuk semuanya.." lirih suara bayu, yang membuatku merasa tersentuh.

"lalu sekarang, kamu mau aku bagaimana, Bay?" tanyaku kemudian.

"aku mengatakan ini hanya sekedar ingin kamu tahu, Lif. Aku mengatakan ini, hanya untuk membuat hatiku menjadi lega, karena sudah jujur padamu. Meski sejujurnya aku juga berharap, kamu bisa mencintaiku dan kita bisa menjalin hubungan yang lebih erat dari sekedar sebuah persahabatan.." jawab Bayu.

"maksud kamu, kamu ingin kita pacaran?" tanyaku terdengar lugu.

"begitulah tepatnya, Lif. Tapi aku tidak akan memaksa kamu. Semua terserah padamu, Lif. Namun yang pasti, aku sangat mencintamu dan berharap bisa memilikimu lebih dari sekedar sahabat..." jawab Bayu lagi.

Sekali lagi aku menarik napas dalam.

"sebenarnya.... sebenarnya... akhir-akhir ini aku memang sering memikirkan kedekatan kita, Bay. Aku memang mulai merasa nyaman saat bersama kamu. Aku juga sering berkhayal tentang kamu. Tapi aku sendiri tidak yakin, apa yang sebenarnya aku rasakan.."

"selama ini kamu begitu baik padaku, Bay. Kamu selalu ada untukku. Hal itulah yang akhirnya menyadarkanku bahwa sebenarnya aku sangat membutuhkanmu, bahkan mungkin lebih dari sekedar sahabat.." ucapku kemudian dengan nada sedikit terbata.

Bayu tiba-tiba duduk dari rebahannya, kemudian ia menatapku dengan pandangan yang sulit aku pahami.

Tapi yang pasti mata itu terlihat begitu indah. Apa lagi Bayu menatapku dengan mengembangkan senyumnya. Senyum yang tiba-tiba terlihat begitu manis di mataku.

Ahk, mengapa semua harus seperti ini?

Setelah semua yang terjadi dalam perjalanan hidupku yang panjang. Sekarang aku justru terjebak dalam cinta pada sahabatku sendiri.

Mungkin kebersamaan kami selama ini dan segala kebaikan Bayu padaku telah mampu mengubah perasaanku yang sesungguhnya.

Atau mungkin inilah aku yang sebenarnya?

Aku memejamkan mataku beberapa saat, membayangkan hari-hari yang telah aku lewati.

Tak pernah aku sangka, setelah kegagalan demi kegagalan yang aku lalui dengan para mantan istri-istriku, justru sekarang aku jadi tertarik dengan laki-laki.

Sebenarnya aku cukup dilema.

Antara menerima ajakan Bayu untuk menjalin hubungan asmara dengannya atau berusaha menghindar dari pesona Bayu yang terus saja membayangiku.

Aku tahu, aku tidak bisa begitu saja menghindar dari Bayu. Biar bagaimana pun hingga saat ini aku masih bekerja bersama Bayu.

Dan harus aku akui, kalau Bayu adalah satu-satunya orang yang paling dekat denganku saat ini.

Selain Bayu, aku memang tidak punya siapa-siapa lagi di sini.

Kecuali kak Ning, kakakku satu-satunya yang masih tinggal di kampung. Namun kehidupannya tidaklah cukup baik, aku bahkan sering mengiriminya uang untuk membantu kehidupannya.

Jika aku harus melepaskan Bayu dan memilih jalanku sendiri, itu artinya aku harus siap kehilangan segalanya.

Aku tidak ingin terpuruk lagi. Aku tidak ingin merasakan lagi pahitnya sebuah penderitaan.

Jika dengan menerima ajakan Bayu bisa menyelamatkan hidupku, tak ada salahnya aku memberi Bayu kesempatan.

Dan lagi pula sebenarnya perasaanku pada Bayu, juga sudah mulai berkembang.

Hanya saja aku takut, jika kami menjalin hubungan asmara, lalu bagaimana masa depan kami?

Mungkinkah kami akan tinggal serumah layaknya kehidupan sepasang suami istri?

Lalu bagaimana dengan anak-anak kami?

Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku.

Namun pada akhirnya aku hanya bisa pasrah. Membiarkan perjalanan nasib membawaku pada sebuah kenyataan.

Kenyataan bahwa aku dan Bayu memang sudah ditakdirkan untuk tetap bersama.

Semoga saja ini adalah yang terbaik.

Dan aku sadar, bahwa ini bukanlah akhir dari perjalanan hidupku.

Akan begitu banyak peristiwa yang akan terus terjadi sepanjang perjalanan hidupku ke depannya.

Semoga saja aku selalu kuat menghadapinya.

Ya, semoga saja..

****

Sekian...

Om Johan, pacar papaku ...

Aku memanggilnya om Johan, dan dia adalah pacar papaku.

Siapa sebenarnya om Johan?

Apa yang terjadi antara aku dan om Johan?

Dan seperti apa akhir dari kisah kami bertiga?

Simak cerita ini sampai selesai ya..

Sang penuai mimpi

Namaku Syaiful Bahrianto, orang-orang biasa memanggilku Ipul.

Dan saat ini aku sudah kuliah tahun pertama.

Aku hidup bersama seorang papa dan tinggal di sebuah rumah yang boleh dibilang cukup mewah.

Sejak aku kecil papa dan mama sudah berpisah. Aku tidak tahu apa penyebabnya dan aku tidak pernah berani bertanya kepada papa.

Namun yang pasti semenjak mereka berpisah aku tidak pernah lagi bertemu dengan mama.

Aku dibesarkan oleh papa sendirian.

Papa bekerja sebagai seorang pegawai di sebuah lembaga pemerintahan. Dan secara ekonomi kehidupan kami cukup mapan.

Namun tentu saja sebagai anak korban dari perceraian kedua orangtuaku, hidupku jadi tidak teratur.

Aku selalu merasa kekurangan kasih sayang. Aku selalu merasa kurang perhatian. Terutama dari sosok seorang ibu.

Karena itu aku jadi seorang anak yang sangat pendiam dan sedikit penakut.

*****

Sejak aku kecil dan sejak papa bercerai dari mama, papa sering mengajak om Johan datang ke rumah, bahkan om Johan juga sering menginap di rumah kami.

Om Johan mengaku, kalau ia adalah salah seorang rekan kerja papa.

Awalnya aku menganggap kehadirang om Johan di rumah kami adalah hal yang biasa.

Namun lama kelamaan, aku sering melihat mereka berdua bermesraan.

Awalnya aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan sebenarnya.

Namun beriring bertambahnya usiaku, aku mulai paham apa yang terjadi antara om Johan dan papaku.

Apa lagi mereka selalu terlihat mesra, terutama ketika om Johan menginap di rumah kami.

Aku sering memergoki mereka melakukan hubungan layaknya sepasang suami istri.

Tapi mereka terlihat santai, dan seolah-olah menganggap aku tidak pernah tahu.

Ingin rasanya aku protes kepada papa akan hal tersebut. Tapi aku tidak pernah berani.

Hingga akhirnya aku tumbuh dan besar, dalam bayang-bayang kemesraan dua orang laki-laki dewasa.

Saat aku mulai puber, aku justru sering mengkhayalkan hal tersebut.

Aku selalu membayangkan bisa melakukan hal tersebut dengan om Johan.

Aku mulai sering memikirkan om Johan. Aku juga sering memperhatikannya diam-diam.

Mengintip papa dan om Johan sudah menjadi rutinitas bagiku, setidaknya setiap malam om Johan menginap.

Hingga aku menyelesaikan masa SMA-ku dan mulai masuk dunia perkuliahan.

Aku masih saja selalu berkhayal tentang om Johan.

Aku memang telah jatuh cinta padanya. Om Johan adalah cinta pertamaku.

*****

Suatu hari, saat aku baru saja pulang kuliah. Aku menemukan om Johan sendirian di rumah kami.

"om Johan? Kenapa disini? Dan mana papa?" tanyaku dengan nada sedikit canggung.

Aku dan om Johan memang jarang mengobrol. Karena setiap kali kesini, beliau hanya ngobrol dengan papaku.

Bahkan sebenarnya aku dan papaku juga tidak begitu dekat.

"papa kamu sedang ada tugas ke luar kota. Jadi ia memintaku untuk menemani kamu malam ini.." jawab om Johan terdengar santai.

Aku terdiam beberapa saat. Biasanya kalau papa ada tugas ke luar kota, ia selalu memintaku untuk tidur di rumah temanku atau juga di rumah tetangga kami.

Tapi entah mengapa kali ini, papa justru meminta om Johan menemaniku.

Selanjutnya aku langsung menuju kamarku, tak sanggup lebih lama lagi berduaan dengan om Johan di ruang keluarga.

Aku memang selalu berdebar-debar setiap kali menatap wajah om Johan. Aku selalu marasa gugup, saat dekat-dekat dengan om Johan.

Sebenarnya om Johan tidak terlalu tampan. Wajahnya biasa saja, tapi ia punya tubuh yang atletis dan kekar.

Aku selalu membayangkan bisa berada dalam pelukan hangat tubuh atletis itu.

Saat aku selesai mandi dan berganti pakaian, aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku.

"siapa?" tanyaku dari dalam.

"saya. Om Johan.." balas suara tersebut dari balik pintu kamarku.

"ada apa, om?" tanyaku masih dari dalam dan berusaha berucap dengan nada sewajar mungkin.

"saya boleh masuk?" tanya om Johan lagi. "ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kamu, Pul.." lanjutnya.

Aku terdiam. Hal penting apa yang ingin om Johan bicarakan denganku. Padahal selama ini, kami bahkan hampir tidak pernah berbicara berdua.

Namun karena penasaran, aku akhirnya membuka pintu untuk om Johan dan mempersilahkannya masuk.

Om Johan duduk dengan santai di pinggiran ranjang tidurku. Aku dengan perasaan gugup duduk sedikit jauh di sampingnya.

"om mau ngomong apa?" tanyaku akhirnya setelah kami terdiam beberapa saat.

Om Johan menatapku dengan mata sendunya. Debaran di jantungku kian menjadi-jadi. Aku buru-buru menunduk, tak berani lebih lama menatap mata indah itu.

"om tahu, kalau sebenarnya kamu sudah tahu tentang hubungan om dengan papa kamu." suara om Johan sedikit serak.

Aku mendongak kembali mendengar kalimat tersebut, menatap kembali wajah setengah tampan milik om Johan.

"om juga tahu, kalau kamu sering mengintip kami dari lobang kunci pintu. Dan om juga tahu, kalau kamu sering diam-diam memperhatikan om.." lelaki yang berusia sekitar 46 tahun itu melanjutkan kalimatnya.

Kali ini aku menunduk kembali. Aku benar-benar tidak menyangka kalau om Johan akan berkata demikian.

"sebenarnya sudah sejak lama om ingin mengatakan ini pada kamu, Pul. Tapi om merasa tidak enak hati kepada papa kamu." om Johan terus berucap, melihat aku yang hanya tertunduk.

Hening sejenak. Tiba-tiba aku merasa om Johan bangkit dari duduknya, lalu kemudian ia berpindah duduk berdempetan denganku.

"om suka sama kamu, Pul. Kamu tampan dan begitu bersih. Om sangat menyukai kamu, bahkan sudah sejak lama.." om Johan berucap sambil meraih jemariku.

Tanganku bergetar hebat. Seumur hidup aku belum pernah sedekat ini dengan seorang laki-laki.

Apa lagi saat ini, laki-laki yang ada di dekatku adalah laki-laki yang selalu menghiasi fantasi liarku selama ini.

Aku memejamkan, berharap semua itu bukanlah sebuah mimpi.

Aku menarik napas berkali-kali, sekedar menenangkan pikiran dan hatiku.

"aku... aku.. aku.. juga suka ... sama.. om..." ucapku akhirnya dengan nada terbata.

"aku ingin selalu bersama om Johan. Aku ingin merasakan hal tersebut bersama om Johan.." aku melanjutkan dengan cukup berani.

Untuk sesaat mata kami saling tatap. Om Johan menyunggingkan sebuah senyum manis.

"kamu yakin ingin melakukannya dengan om?" tanya om Johan kemudian.

Aku mengangguk yakin. Seyakin perasaanku pada om Johan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, malam itu aku akhirnya bisa merasakan hal tersebut dengan om Johan.

Om Johan sangat tangguh, dan aku sangat menyukainya.

Itu adalah pengalaman pertama terindah dalam hidupku.

*****

Sejak kejadian malam itu, aku dan om Johan jadi semakin sering melakukannya.

Om Johan selalu bisa mengatur waktu, agar pertemuan kami tidak diketahui oleh papaku.

Kadang aku memang merasa cemburu, setiap kali melihat om Johan dan papa.

Tapi om Johan selalu berhasil meyakinkanku setiap kali kami punya kesempatan untuk berduaan.

Om Johan bahkan berjanji akan segera mengakhiri hubungannya dengan papaku, dan akan fokus dengan hubungannya bersamaku.

Aku yang memang telah jatuh cinta dan terlanjur bahagia dengan kehadiran om Johan dalam hidupku, tentu saja percaya dengan semua janji om Johan.

Namun setelah hampir setahun hubungan segitiga itu terjalin, om Johan masih saja terus berhubungan dengan kami berdua.

"hubungan om dan papa kamu, sudah terjalin bertahun-tahun lamanya, Pul. Om belum menemukan alasan yang tepat untuk memutuskan hubungan kami saat ini.." begitu alasan om Johan setiap kali aku mempertanyakan hal tersebut.

"kamu sabar, ya.." bujuknya melanjutkan.

Seperti biasa aku hanya bisa terdiam. Setiap kali om Johan berkata demikian. Dia akan berusaha membuatku terlena dengan kemesraannya yang indah.\

Aku juga tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Setidaknya aku masih bisa bersama om Johan, meski harus berbagi dengan papaku sendiri.

Hingga akhirnya hubunganku dengan om Johan diketahui oleh papaku.

Papa marah pastinya, tapi ia tak berani memarahiku. Segala kemarahannya justru ia tumpahkan kepada om Johan.

Mereka bertengkar hebat di depanku. Aku pun segera berlalu dari sana.

Aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Setidaknya sampai keadaan kembali membaik.

Aku merasa sakit sebenarnya. Namun aku tak mampu berbuat apa-apa saat ini.

Aku kecewa karena hubunganku dengan om Johan akhirnya diketahui oleh papaku. Namun kekecewaanku yang paling dalam ialah menyadari bahwa hubunganku dengan om Johan pasti tidak akan bisa dilanjutkan lagi.

Aku akan kehilangan lelaki cinta pertamaku itu. Aku tidak akan bisa lagi merasakan kehangatan darinya.

Padahal cintaku pada om Johan sudah sangat dalam dan terasa begitu kuat.

*****

Aku menginap beberapa malam di rumah salah seorang teman kuliahku. Sampai akhirnya papa menemukanku.

"papa minta maaf, Pul." ujar papa, ketika kami sudah berada di rumah kembali.

Aku tak tahu, entah bagian mana sebenarnya yang membuat papa harus meminta maaf padaku.

Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf padanya, karena telah merebut om Johan darinya.

"papa minta maaf untuk semuanya, Pul. Papa bukanlah ayah yang baik buat kamu. Seharusnya papa tidak membiarkan om Johan masuk ke dalam kehidupan kita. Seharusnya papa tidak melakukan hal tersebut, terutama di depan kamu.." papa beujar lagi, kemudian menarik napas berat.

"papa sangat menyesali semuanya, Pul. Papa tahu ini sudah terlambat. Tapi papa janji akan memperbaiki semuanya lagi.."

"papa sudah putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan om Johan. Papa harap kamu juga melakukannya, demi papa dan demi kehidupan kita yang lebih baik ke depannya.." suara papa mulai parau.

Aku terhenyak. Entah bagian mana dari ucapan papa barusan yang membuat hatiku terenyuh.

Entah karena papa yang telah sadar akan kesalahannya, atau mungkin karena papa memintaku untuk melepaskan om Johan, orang yang telah memberi warna dalam hidupku.

"papa harap, kamu mau memberikan papa kesempatan kedua, Pul." papa berujar lagi.

"papa akan menemui mama kamu, dan memintanya untuk kembali lagi ke rumah kita. Dan kita akan memulai hidup baru, Pul. Memulai semuanya lagi dari awal.." lanjut papa.

"sebenarnya apa yang terjadi antara papa dan mama?" tanyaku akhirnya, setelah untuk beberapa menit kami terdiam.

Papa menatapku sekilas, kemudian berujar :

"papa dan om Johan sudah pacaran, jauh sebelum papa dan mama kamu menikah. Papa menikah dengan mama kamu, bukan karena kami saling cinta. Tapi sebenarnya kami dijodohkan."

"namun setelah menikah dengan mama kamu, papa masih terus berhubungan dengan om Johan."

"hingga akhirnya, mama kamu mengetahuinya, dan memilih untuk pergi meninggalkan papa.."

Papa sekali lagi menarik napas berat.

"sebenarnya mama kamu ingin sekali membawa kamu pergi, tapi papa berhasil mencegahnya dan sedikit mengancamnya agar tidak lagi berusaha menemui kamu.."

"karena itu juga, mama kamu tidak pernah berani untuk datang menemui kamu." papa berujar dengan suara lirih.

"bagaimana kalau ternyata mama sudah menikah lagi, dan bagaimana kalau ia tidak mau kembali lagi?" ucapku bertanya.

"selama ini sebenarnya papa dan mama masih sering saling berhubungan. Papa tahu persis kalau mama kamu belum menikah dan ia pasti mau kembali lagi, jika ia tahu kalau papa sudah tidak berhubungan lagi dengan om Johan.." jawab papa terdengar yakin.

"papa tahu, ini tidak akan semudah yang papa bayangkan. Tapi setidaknya papa akan berusaha semampu papa untuk memperbaikinya.." papa melanjutkan.

"tapi papa butuh dukungan kamu, Pul. Dan papa ingin agar kamu juga bisa berubah.." lanjutnya lagi.

Aku merenung beberapa saat.

Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua.

Meski sudah sangat terlambat, tak ada salahnya jika aku bersedia memberi papa kesempatan tersebut.

Dan tak ada salahnya juga, kalau aku mencoba untuk berubah.

Selama ini sebenarnya aku hanya kekurangan kasih sayang dan juga perhatian, sehingga kehadiran om Johan benar-benar membuatku terlena.

Jika papa dan mama bisa bersatu lagi, aku yakin aku pasti bisa berubah.

Segala kejadian dan kenangan ku bersama om Johan, akan menjadi sepenggal cerita di masa laluku.

Aku dan papa akan sama-sama berjuang untuk memulai kehidupan yang jauh lebih baik dan jauh lebih normal.

Semoga saja mama juga bersedia memaafkan papa dan mau memulai semuanya lagi dari awal.

Semoga saja aku dan papa benar-benar bisa berubah selamanya..

Ya, semoga saja..

*****

Sekian..

Nasib sopir ojek online

Hari sudah jam sepuluh malam, saat aku memarkir motorku di teras rumah kontrakan kami.

Rasa capek mulai menggerogoti tubuhku, setelah seharian aku berkendara, untuk mengantar para penumpang dan juga terkadang mengantar pesanan makanan orang-orang yang memakai jasaku, sebagai seorang tukang ojek online.

Sang penuai mimpi

Meski sebenarnya untuk hari ini, orderan ku cukup sepi. Dan penghasilanku hari ini juga jauh dari kata cukup.

Karena itu juga, rasa capek itu kian kuat aku rasakan.

Saat aku hendak mengetuk pintu untuk masuk ke rumah, tiba-tiba ponselku berdering ringan.

Sebuah orderan masuk ke aplikasi ojek online-ku.

Sebenarnya aku merasa malas untuk menerimanya, namun karena mengingat pendapatanku hari ini sangat minim, aku akhirnya dengan perasaan berat menerima orderan tersebut.

Sebuah orderan untuk mengantarkan makanan ke sebuah perumahan elite yang tidak terlalu jauh dari tempat aku tinggal.

Aku segera menghidupkan motorku kembali, dan menuju restoran tempat pesanan makanan itu di buat.

Sebelumnya perkenalankan namaku Radit. Aku seorang laki-laki yang sudah berusia tiga puluh tahun, saat ini.

Aku sudah menikah dan sudah punya seorang anak perempuan.

Istriku seorang guru TK yang berada tidak jauh dari tempat kami mengontrak rumah.

Secara ekonomi kehidupan rumah tangga kami, memang terbilang hanya pas-pasan.

Istriku masih seorang guru honorer, yang digaji hanya ala kadarnya.

Sementara pendapatanku sendiri, tidak menentu. Kadang-kadang cukup, dan kadang lebih sering jauh dari harapan.

Namun begitu kehidupan kami baik-baik saja, meski kami harus lebih sering menahan diri untuk tidak berbelanja sesuatu yang tidak begitu kami butuhkan.

*****

Lima belas menit kemudian, aku sampai ke restoran tersebut. Aku segera menanyakan tentang orderan dari pelangganku tersebut.

Ternyata pesanan itu masih dalam proses dimasak oleh pihak restoran. Aku masih harus menunggu beberapa saat lagi.

Aku duduk di pojok restoran tersebut, untuk sekedar menghilangkan rasa penatku.

Selang beberapa saat, pesanan itu akhirnya selesai. Aku segera membayarnya, dan segera keluar dari kafe tersebut.

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang sepuluh menit, aku akhirnya sampai di depan sebuah rumah mewah.

Rumah mewah itu memang berada di sebuah kawasan perumahan elite.

Aku menekan bel beberapa kali, hingga seorang laki-laki muda membuka pintu untukku.

Laki-laki itu hanya memakai baju kaos lengan pendek dengan celana pendeknya.

"pesanannya mas.." ujarku, sambil menyodorkan pesanan tersebut.

Laki-laki yang aku ketahui bernama Danil itu, segera mengambil bungkusan tersebut, lalu menyerahkan sejumlah uang padaku.

"ambil aja kembaliannya.." ucap laki-laki itu serak.

"makasih, mas.." balasku, dengan menyunggingkan senyum tipis.

Aku segera memutar tubuh untuk segera berlalu dari situ.

"tunggu dulu, mas.." suara laki-laki itu mencegah langkahku.

Aku kembali memutar tubuh untuk menatap laki-laki tersebut.

"ada apa lagi ya, mas?" tanyaku pelan.

Sesaat laki-laki itu terdiam. Ia menatapku cukup lama.

"mas mau uang tambahan gak?" tanya laki-laki itu kemudian.

"uang tambahan maksudnya mas?" aku balik bertanya sambil mengerutkan kening.

Laki-laki itu terdiam kembali. Ia terlihat sedang berpikir keras.

"saya mau kasih kamu uang, kalau kamu mau memenuhi permintaan saya malam ini.." ucap laki-laki itu akhirnya.

"kalau boleh tahu, permintaan mas apa ya?" tanyaku sekedar ingin tahu.

"saya mau mas Radit tidur dengan saya.." suara laki-laki itu sedikit pelan.

"maksudnya, mas?" aku bertanya kembali, keningku sedikit mengerut.

"maksud saya, saya... saya mau mas Radit melakukan hubungan intim dengan saya.." jawab laki-laki berkulit putih itu lagi.

"mas Danil gay?!" tanyaku lagi, kali ini keningku mengerut dua kali lipat dari biasanya.

"iya. Dan kebetulan saat pertama melihat mas Radit tadi, saya jadi tertarik. Saya akan bayar mas Radit berapa aja, asal mas Radit mau melakukannya denganku.." laki-laki itu menjelaskan.

Aku terdiam. Membayangkan aku berhubungan dengan Danil, aku merasa jijik.

Tapi jika ia bersedia membayarku mahal, aku harus berpikir dua kali untuk menolaknya.

Pendapatanku hari ini, sangat sedikit. Dan lagi pula, lusa aku harus membayar kontrakan rumah.

Mungkin ini kesempatanku untuk bisa mendapatkan uang yang banyak.

Tapi membayangkannya saja aku sudah mulai merasa mual.

Oh, tiba--tiba aku merasa dilema.

Harus aku akui, kalau aku bukanlah laki-laki baik-baik.

Dulu aku adalah seorang preman pasar, yang suka memeras para pedagang untuk mendapatkan sejumlah uang.

Aku juga suka mabuk-mabukan dan main perempuan, bahkan aku juga sering berjudi.

Tapi itu dulu, sebelum menikah dengan istriku yang sekarang. Apa lagi semenjak punya anak, aku mulai belajar untuk menjadi laki-laki baik dan bertanggungjawab.

Namun nasib hingga saat ini masih belum memihak padaku.

Kehidupanku dan keluargaku masih selalu kekurangan.

Kadang aku membenci segala kemiskinan ini. Kadang aku merasa, bahwa nasib yang aku jalani saat ini adalah karena balasan dari dosa-dosaku di masa lalu.

Aku memang sering merasa menyesal, karena selalu berbuat dosa selama ini.

Aku sudah bertekad untuk berubah. Aku sudah bertekad untuk memberi makan istri dan anakku dengan cara yang halal.

Namun semakin hari, kehidupan kami bukannya semakin membaik, tapi justru semakin terpuruk.

Dan sekarang tiba-tiba saja ada orang yang menawarkanku sebuah kesempatan untuk mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang mudah.

Aku yakin, berapa pun uang yang aku minta pada Danil malam ini, ia pasti akan bersedia untuk memberikannya.

Mengingat ia adalah seorang yang sangat kaya, dan juga sangat terlihat kalau ia sangat tertarik padaku.

Tapi....

"jika mas Danil mau membayarku mahal, saya bersedia, mas. Apa lagi saat ini saya memang lagi butuh banyak uang.." ucapku akhirnya.

Kulihat Danil tersenyum menang. Tatapannya tajam menghujam mataku.

Aku merasa jengah. Perasaan geli mulai menggelitik pikiranku.

Namun demi sejumlah uang aku rela melakukan hal tersebut.

Aku tidak berpikir panjang lagi untuk menerima tawaran dari Danil. Setidaknya dengan begitu, aku tidak perlu pusing-pusing lagi mencari uang untuk membayar kontrakan rumah kami beberapa bulan ke depan.

Danil kemudian mengajakku masuk ke dalam kamarnya.

Kamar itu cukup luas dengan perabotan yang mewah.

Dan tanpa menunggu lama, Danil pun mulai melakukan aksinya.

Aku berusaha sekuat mungkin menahan rasa geli dan rasa jijikku. Yang ada dalam pikiranku saat itu, hanyalah setumpuk uang yang akan aku terima nantinya.

Hingga akhirnya aku menyadari, bahwa hal tersebut tidak seburuk yang aku bayangkan.

Ada sensasi keindahan berbeda yang aku rasakan. Sebuah sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Terlebih karena Danil terlihat sudah sangat berpengalaman dalam hal tersebut.

*****

Aku pulang dengan tubuh yang terasa lelah. Hari sudah hampir jam satu malam.

Aku mengetuk pintu rumah dengan perasaan tak menentu. Istriku segera membuka pintu dari dalam.

"kok baru pulang, mas?" suara istriku parau.

"iya. Lagi banyak orderan.." jawabku sekedarnya.

Setelah menutup dan mengunci pintu, aku langsung menuju kamar untuk segera tidur.

Tubuhku memang terasa sangat capek.

Keesokan harinya aku kembali menjalani rutinitasku seperti biasa. Kejadian tadi malam bersama Danil, terus membayangiku.

Uang yang aku terima memang cukup banyak. Tapi bukan itu yang menjadi pikiranku saat ini.

Aku merasa telah mengkhianati istriku. Aku merasa telah menodai takdirku sebagai seorang laki-laki.

Tapi sekali lagi, aku melakukan itu semua hanya demi uang.

Namun uang itu masih aku simpan, aku tak tega memberikannya pada istriku. Seperti janjiku pada diriku sendiri, bahwa aku ingin memberi nafkah istri dan anakku dengan uang yang halal, bukan dari hasil aku jual diri.

Aku berniat untuk mengembalikan semua uang itu kepada Danil. Tapi sebagian hatiku menolak.

Aku sudah terlanjur menuruti permintaan Danil. Aku sudah terlanjur kehilangan harga diriku.

Jika aku mengembalikan uang tersebut, jelas tidak akan membuat harga diri kembali.

Ah, tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak dalam dadaku.

Kenapa juga aku harus mau memenuhi permintaan Danil?

Kenapa aku tidak menolaknya saja?

Aku sudah terlanjur terjerumus ke dalam lembah hitam penuh dosa.

Yang membuatku kian merasa bersalah.

Tapi apa yang harus aku lakukan saat ini?

Sementara aku sangat membutuhkan uang ini, untuk membayar kontrakan rumah dan juga untuk belanja keluargaku.

*****

Aku menekan bel rumah mewah itu satu kali.

Tak lama kemudian, Danil pun muncul di ambang pintu.

"ada apa, mas Radit?" suara Danil terdengar serak.

"saya... saya ingin mengembalikan.. uang yang kamu berikan semalam.." ucapku dengan sedikit terbata.

"kenapa? Bukankah mas Radit sangat membutuhkan uang tersebut?" Danil bertanya lagi.

"saya memang sedang membutuhkan uang, Nil. Tapi tidak dengan cara seperti ini.." balasku pelan.

"terserah mas Radit, sih. Tapi saya gak mungkin menerima sesuatu yang sudah terlanjur saya berikan pada mas Radit.." Danil berucap, sambil mulai menutup pintunya kembali.

Aku hanya terdiam dan membiarkan Danil menutup pintu rumahnya.

Aku memang berniat untuk mengembalikan uang tersebut. Tapi mendengar ucapan Danil barusan, tiba-tiba saja aku berubah pikiran.

Saat aku hendak memutar tubuh untuk segera berlalu dari tempat itu, tiba-tiba pintu rumah Danil terbuka kembali.

"saya ikhlas kok, mas Radit. Dan nanti jika mas Radit butuh uang, mas Radit bisa datang kapan saja kesini.." Danil berucap dengan sedikit menyunggingkan senyum tipis.

Aku tidak membalas ucapan Danil barusan. Aku terus saja melangkah meninggalkan rumah tersebut.

Sekali lagi, aku bukan laki-laki baik-baik. Mungkin belum saatnya aku berubah menjadi laki-laki baik.

Tapi aku berjanji dalam hatiku, ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku melakukan hal tersebut.

Ini adalah pertama dan terakhir kalinya, aku menjual diriku hanya demi uang.

Semoga saja ke depannya aku bisa jadi lebih baik.

Semoga saja tidak ada lagi dari pelangganku yang menawarkan uang seperti yang dilakukan Danil padaku.

Ya, semoga saja...

*****

Sekian...

Lelaki dari Timur

Namanya Deden. Ia salah seorang rekan kerjaku. Dan ia berasal dari Timur, tepatnya dari Pulau Sulawesi.

Sejak awal mengenal Deden, aku merasa biasa saja. Deden memang baru setahun kerja di perusahaan kami.

Deden tidak tampan, namun ia memiliki postur tubuh yang atletis dan terlihat kekar.

Kulitnya gelap, namun terlihat bersih dan terawat dengan baik.

Deden seorang perantau, ia tinggal sendiri di sebuah kamar kost.

Usia Deden sudah 27 tahun, dua tahun lebih muda dariku.

Deden satu ruangan denganku dan juga beberapa orang rekan kerja lainnya.

Kami satu ruangan memang sering makan siang bareng di kantin depan kantor tempat kami bekerja.

Setahun mengenal Deden, aku merasa mulai sering memikirkannya. Sikapnya yang tenang dan cukup pendiam, membuat Deden terlihat lebih dewasa.

Aku kadang suka memperhatikannya diam-diam.

Meski tidak tampan, namun Deden punya daya tarik tersendiri, yang membuatku sering melamunkannya saat malam hari.

Aku sendiri seorang anak bungsu dari lima bersaudara. Keempat kakak-kakakku sudah menikah dan sudah punya rumah sendiri.

Aku masih tinggal bersama kedua orangtuaku yang dua-duanya sudah pensiun.

Sebagai anak bungsu aku memang tergolong sedikit manja. Tapi aku tidak feminim, aku tipe cowok yang tergolong maskulin.

Hanya saja, sejak SMP aku sudah menyadari kalau aku adalah seorang gay.

Aku pernah jatuh cinta dan pacaran dengan laki-laki beberapa kali.

Namun sudah hampir tiga tahun belakangan ini, aku sudah sangat jarang berhubungan dengan laki-laki.

Kisah cintaku yang selalu kandas, membuatku lebih hati-hati dalam mengenal laki-laki yang ingin dekat denganku.

Tapi sejak kehadiran Deden, aku mulai merasakan kembali yang namanya jatuh cinta.

Ya, Deden dengan segala kesederhanaannya telah mampu menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku.

Namun aku selalu berusaha bersikap wajar di depan Deden. Aku bersikap seolah-olah Deden hanyalah seorang rekan kerja, sebagaimana rekan kerjaku yang lainnya.

Hingga suatu saat, kami sekantor melakukan sebuah perjalanan rekreasi bersama.

Hal tersebut memang sudah menjadi kegiatan rutin hampir setiap tahun, sebagai bentuk apresiasi atasan kami, untuk hasil kerja kami setahun.

Perjalanan dimulai dari pagi sekitar jam tujuh dengan menggunakan sebuah bus pariwisata.

Tujuan kami kali ini berjarak kurang lebih tujuh jam perjalanan dari kota tempat kami tinggal.

Dan kali ini juga, kami mendapat jatah liburan selama dua hari. Untuk itu kami juga telah disediakan tempat menginap di sebuah hotel.

Kebetulan sekali aku dan Deden duduk satu bangku di dalam bus, selama perjalanan tersebut.

"melamun aja dari tadi, bang Aqis.." suara Deden yang duduk di sampingku sedikit mengagetkanku.

"ah, gak, kok. Cuma mencoba menikmati perjalanan ini.." balasku beralasan.

"bang Aqis lagi memikirkan pacarnya ya..?" tanya Deden dengan nada sedikit menggoda.

"saya mana punya pacar, Den..." jawabku jujur.

"ah, masa' orang setampan dan segagah bang Aqis belum punya pacar?!" Deden berujar lagi, dengan nada tak percayanya.

Aku merasa sedikit tersanjung dengan kalimat pujian yang dilontarkan Deden barusan.

"kamu bisa aja, Den. Tapi aku memang gak punya pacar..." jawabku akhirnya.

"pasti karena bang Aqis orangnya terlalu pemilih. Padahal banyak loh, cewek-cewek rekan kerja kita yang suka sama bang Aqis.." ujar Deden selanjutnya.

"itu dia masalahnya, Den.." suaraku lemah.

"masalah apa?" tanya Deden dengan kening berkerut.

"jangan bilang bang Aqis tidak suka perempuan?" Deden melanjutkan dengan nada hati-hati.

Aku menatap Deden cukup tajam.

"maaf, bang. Saya hanya mencoba bercanda, kok." Deden berucap lagi, melihat saya yang menatapnya tajam.

"kamu sendiri gimana, Den? Apa kamu sudah punya pacar?" aku berucap, mencoba mengalihkan pembicaraan.

"saya mana suka perempuan, bang?" jawab Deden datar.

Aku setengah terperanjat mendengar penuturan Deden barusan. Bukan saja karena keberanian Deden untuk jujur padaku, tapi juga karena aku tak menyangka sama sekali kalau Deden ternyata juga seorang gay.

"kamu serius?" tanyaku setengah berbisik.

Para penumpang lain dalam bus memang sepertinya sedang sibuk dengan cerita mereka masing-masing. Tapi aku tetap merasa takut pembicaraan kami di dengar oleh mereka.

"saya justru suka sama abang. Sudah sejak lama malah.." Deden turut berbisik, namun kalimatnya terdengar begitu tegas.

Aku terdiam tiba-tiba. Sekali lagi aku tak menyangka, kalau Deden akan berucap demikian dengan gamblangnya.

Meski ada rasa senang dihatiku mendengar kalimat tersebut, namun aku belum cukup berani untuk jujur pada Deden tentang perasaanku padanya.

Untuk selanjutnya, kami hanya saling membisu. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran Deden saat itu, setelah ia dengan mudahnya mengungkapkan siapa dirinya dan bagaimana perasaannya padaku.

Sementara aku dengan sekuat hati menahan perasaan bahagia, memikirkan kejujuran Deden tersebut.

Aku merasa bahagia, ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Namun ini semua terlalu mudah bagiku.

Aku hanya takut, sesuatu yang mudah di dapat, akan mudah pula untuk terlepas.

Untuk itu, aku tetap memilih diam, tanpa berani berkata apa-apa lagi kepada Deden.

*****

Sesampai ditujuan, kami pun berjalan-jalan di sepanjang pantai sambil berfoto ria bersama-sama.

Untuk sesaat, cerita antara aku dan Deden tidak lagi mengganggu pikiranku.

Namun saat di hotel, perasaan itu kembali muncul di benakku.

Apa lagi, ternyata aku dan Deden tidur satu kamar.

"bang Aqis marah ya sama saya?" tanya Deden akhirnya, ketika kami sudah berada di dalam kamar hotel.

"gak. Saya gak marah kok, Den." jawabku dengan nada datar.

"tapi sejak tadi bang Aqis seperti mendiamkanku.." balas Deden lagi.

Aku kembali terdiam. Hatiku dilema.

Antara ingin jujur kepada Deden, atau tetap memilih untuk memendam perasaanku.

"bang Aqis pasti jijik ya berteman denganku sekarang?" suara Deden lemah.

"aku... aku... aku ... sebenarnya juga suka sama kamu, Den..." ucapku akhirnya dengan nada terbata.

"iya, aku tahu. Meski aku tidak begitu yakin awalnya." ucapan Deden membuatku menatapnya penuh tanya.

"aku tahu, bang Aqis selama ini diam-diam sering memperhatikanku. Karena itu juga, aku jadi cukup berani untuk jujur pada bang Aqis. Tapi melihat bang Aqis yang hanya terdiam tadi di bus, aku mulai ragu.."

"namun sekarang aku percaya, kalau sebenarnya kita saling tertarik.." Deden melanjutkan kalimatnya, ia seperti berusaha menjawab tatapan penuh tanyaku padanya.

Oh, ternyata aku tidak terlalu pintar menyembunyikan perasaanku selama ini. Atau sebenarnya Deden lebih mudah menebak pikiranku, karena kami sama-sama penyuka sesama jenis.

Namun terlepas dari itu semua, kini semuanya sudah sangat jelas.

Aku memang mencintai Deden, dan ternyata Deden juga mencintaiku.

Sejak malam itu, kami pun resmi menjalin hubungan asmara.

Cintaku dan cinta Deden akhirnya menyatu dalam sebuah ikatan asmara yang penuh dengan keindahan.

*****

Semenjak aku dan Deden pacaran, aku jadi semakin sering menginap di kost Deden. Begitu juga sebaliknya, Deden juga sering aku ajak menginap di rumahku.

Tiada hari yang kami lewati tanpa kebersamaan. Semuanya terasa indah. Bahkan teramat indah.

Cinta yang tumbuh dihati kami, benar-benar mekar dengan sempurna.

Kebahagiaan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Aku sangat mencintai Deden, demikian juga sebaliknya.

"apa yang membuat bang Aqis menyukai saya?" tanya Deden suatu malam, ketika untuk kesekian kalinya aku menginap di kost-nya.

"padahal saya orangnya jelek, hitam lagi.." lanjut Deden.

"terus terang dari dulu saya memang suka cowok yang berkulit gelap, terlihat lebih macho aja. Dan lagi pula kamu juga sangat gagah dan kekar, Den. Aku suka cowok yang berotot seperti kamu.." jawabku jujur.

"tapi saya kan tidak tampan, bang." ujar Deden lagi.

"tampang bagi saya bukanlah syarat utama. Yang penting badannya bagus dan bersih, dan yang pasti kamu orang yang baik dan juga berpikiran dewasa, Den." balasku ringan.

"padahal bang Aqis sangat tampan dan juga atletis. Saya merasa sangat beruntung bisa berpacaran dengan bang Aqis.." Deden berucap lagi, sambil ia menggenggam jemariku.

Aku membalas genggaman tangan Deden dengan erat. Tangan itu terasa hangat.

Aku memang mencintai Deden dengan apa adanya dirinya. Tubuhnya yang kekar memang selalu membuatku merindukan dekapannya.

Mencintai Deden adalah sebuah keindahan dan memiliki cintanya merupakan sebuah anugerah bagiku.

Tapi...

Ternyata semua tak berjalan seperti yang kami harapkan.

Kami memang saling mencintai, dan tak ingin terpisahkan.

Namun takdir berkata lain.

Mamaku yang sudah tua dan sering sakit-sakitan, terus memaksaku untuk segera menikah.

"mama ingin melihat kami menikah, Qis. Sebelum mama menemui ajal mama.." begitu rintih mama dalam sakitnya.

Aku tak tega melihat mama yang terus sakit-sakitan. Satu-satunya keinginan mama saat ini, ialah melihat aku menikah.

Tapi aku harus menikah dengan siapa?

Sampai saat ini yang ada dihatiku, hanyalah Deden.

Aku tak ingin menikah dengan siapapun, kecuali dengan Deden.

Tapi bagaimana mungkin hal itu bisa menjadi nyata?

Sementara sakit mama semakin parah, dan permohonannya padaku masih sama.

Sampai akhirnya mama akhirnya pun meninggal, dan aku belum juga bisa memenuhi permintaan terakhirnya.

Aku merasa sangat terpukul dengan kematian mama, namun aku merasa lebih terpukul lagi karena tidak bisa memenuhi permintaan terakhirnya.

"sabar ya, bang.." bisik Deden di telingaku, ia berusaha untuk menghiburku.

Aku memang belum menceritakan tentang permintaan terakhir mama pada Deden. Aku tak ingin Deden ikut merasakan beban yang aku tanggung.

"untuk sementara aku pengen sendirian dulu, Den. Kita gak usah ketemu dulu, ya.." pintaku kepada Deden, ketika akhirnya mama di makamkan.

Deden tidak menjawab. Namun aku yakin, kalau Deden sangat mengerti dengan keadaanku saat ini.

Meski aku juga tahu, bahwa Deden juga ingin menghiburku dan mendampingiku melewati semua ini.

Tapi saat ini, aku benar-benar ingin sendiri.

Rasa bersalahku kepada mama terus menghantuiku, bahkan mama selalu hadir dalam setiap mimpiku.

Hal itu justru semakin membuatku terus dihantui rasa bersalah, yang membuatku jadi berniat untuk segera memenuhi keinginan terakhir mama tersebut.

Karena itu aku meminta salah seorang kakakku untuk mencarikan jodoh buatku.

Kakak-kakakku tentu saja merasa senang mendengar niatku tersebut, apa lagi papa.

Mereka pun berusaha mencarikan jodoh terbaik untukku.

Sementara hubunganku dengan Deden kian terasa jauh.

Deden memang masih sering berusaha untuk menemui dan menghubungiku, namun aku selalu berusaha menghindar darinya.

Aku tidak punya banyak nyali, untuk berbicara jujur pada Deden. Tapi aku juga tidak tega meninggalkannya tanpa penjelasan apa pun.

Hal ini justru menumbuhkan dilema dihatiku.

Di satu sisi, aku ingin segera memenuhi permintaan terakhir mamaku, namun di sisi lain aku juga tidak tega membuat Deden terluka. Terlebih aku sebenarnya juga belum siap berpisah dengan Deden.

Namun aku memang harus memilih, sekalipun pilihanku akan melukai hatiku sendiri.

Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk menceritkan semuanya pada Deden.

Deden terlihat sangat kecewa, tapi ia juga sangat mengerti dengan posisiku saat ini.

Aku dan Deden pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan cara baik-baik dan tanpa ada rasa dendam.

Aku pun kemudian melangsungkan pernikahan dengan gadis pilihan keluargaku, meski aku tidak mencintai gadis tersebut.

Setidaknya dengan begitu, aku telah berusaha untuk memenuhi permintaan terakhir mamaku.

Meski aku harus kehilangan orang yang paling aku cintai.

Deden, cowok gelap dari timur itu, kini hanya menjadi sepenggal cerita di masa laluku.

Aku berharap semoga Deden segera menemukan kebahagiaannya sendiri.

Ya, semoga saja...

****

Cari Blog Ini

Layanan

Translate